Cari di Sini

Rabu, 13 Maret 2013

Lebih dari 2000 Lovebird Diserap Pasar Per Pekan


Popularitas lovebird di Tanah Air terus meroket dalam tiga tahun terakhir ini. Peternak lokal yang hanya produksinya terbatas pun tak mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus menggeliat. Gairah pasar yang terus meningkat ini memicu kalangan importir untuk mendatangkannya dari negeri manca. Di Jabodetabek, misalnya, tercatat beberapa nama importir yang sukses bermain di pasar lovebird.

Salah satu importir yang ikut mereguk manisnya bisnis lovebird adalah Raja Fauna milik H Mansur. Setiap pekan, ribuan lovebird impor selalu habis untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Mansur tidak hanya mengimpor burung cantik ini dari negara-negara Asia yang menjadi “pabrik lovebird” seperti Taiwan, Filipina, dan Thailand, tetapi juga dari Belanda dan Amerika Serikat.

Raja Fauna setiap pekan mendatangkan 1.000 – 1500 ekor lovebird dari berbagai negara. Begitu datang, burung langsung didistribusikan ke sejumlah pasar burung, pengepul, dan pedagang di berbagai kota. “Kalau dihitung, dalam satu bulan bisa mendatangkan delapan ribu ekor lovebird dari berbagai negara,” kata Mansur, ketika ditemui omkicau.com di kediamannya, kawasan Kelapa Dua Wetan, Cibubur, Jakarta Timur.

Lovebird impor mendominasi pasar lokal.
Lovebird impor mendominasi pasar lokal.
Pangsa pasar yang dibidiknya adalah kalangan pedagang, mulai dari Jakarta, Bandung, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur (khususnya Malang). Semuanya merupakan pasar potensial bagi Raja Fauna. Umumnya, dia menjual dalam paket partai grosiran, meski ada juga yang bersifat eceran.

Selain Raja Fauna, ada juga Sanggar Flona di kawasan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Showroom ini juga lumayan eksis untuk jenis lovebird. Namun, importir milik Alex ini lebih fokus pada lovebird asal Eropa, terutama jenis holland.

Sesuai dengan misi awalnya, segmen yang dituju adalah kalangan pemain / pelomba yang membutuhkan kualitas suara yang panjang. Namun, belakangan ini, jenis holland yang cenderung berpostur besar juga menjadi pilihan favorit para breeder. Meski harganya lebih mahal, banyak calonbreeder yang membeli untuk ditangkarkan kembali.

Masih di Jabodetabek, ada juga pemain lovebird impor seperti Sutan, dengan bendera Mahkota Galerry dan bermaras di kawasan Cilangkap. Bisnisnya juga terbilang sukses, karena produknya selalu habis diserap pasar hanya dalam hitungan hari. 


PESAN OM KICAU
  1. Bijaksanalah dalam menyikapi burung impor. Tidak semua burung impor memiliki kualitas lebih bagus daripada burung lokal.
  2. Jangan mudah terjebak oleh permainan importir yang seringkali membanguntrend baru tanpa alasan kuat, sehingga hanya menimbulkan booming sesaat.
  3. Lebih baik menghargai hasil penangkaran anak negeri sendiri. Percayalah, banyak penangkar lovebird lokal di Indonesia yang berkualitas.
  4. Selebihnya, terserah Anda.

sumber: omkicau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar